Sabtu, 07 November 2015

Mencari Kecintaan Allah


Orang-orang yang meyakini adanya hari kebangkitan pasti mengharapkan turunnya kecintaan Allah subhanahu wa ta’ala kepada mereka. Sebab, pada saat itu, kengerian yang terjadi merata di mana-mana.
Hal-hal yang berharga di sisi manusia tak lagi dipedulikan. Mereka lupa akan saudaranya, ibunya, ayahnya, istrinya, anak-anaknya.
Yang mereka pikirkan hanya keselamatan dirinya. Sampai-sampai ucapan para nabi ketika itu hanyalah, “Ya Allah, selamatkan, selamatkan”, sedangkan orang-orang yang Allah cintai tidak merasakan takut dan tidak bersedih hati ketika itu.
Semua manusia berpeluang untuk mendapatkan kecintaan Allah subhanahu wa ta’ala, sekalipun orang kafir. Ya! Selama orang kafir tersebut masih hidup, kemudian mengganti kekufurannya dengan tauhid dan mengganti amalan-amalan dosanya dengan ketaatan. Jadi, kecintaan Allah subhanahu wa ta’ala dapat diraih dengan usaha dari seorang hamba.
Kecintaan Allah subhanahu wa ta’ala akan turun kepada hambaNya dengan syarat tertentu. Syarat tersebut hanya sedikit di antara hamba-hambaNya yang dapat memenuhinya. Di antara hal-hal yang menjadi sebab turunnya kecintaan Allah subhanahu wa ta’ala adalah:
Pertama, meraih kecintaan Allah dengan takwa, kaya hati, dan tersembunyi. Seorang hamba yang memiliki ketiga karakter tersebut, maka Allah subhanahu wa ta’ala akan mencintainya. Disebutkan dalam Shahih Muslim No. 2965 bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah mencintai hamba yang bertakwa, kaya, dan tersembunyi.”
Takwa adalah mengamalkan segala perintah Allah di atas cahayaNya dengan niat mengharap wajahNya dan menjauhi segala larangan Allah di atas cahayaNya dengan alasan takut terhadap azabNya. Karena itu, orang yang hendak mencapai derajat takwa hendaklah bersemangat menjalankan ketaatan dan menjauhi larangan, bersemangat untuk mengetahui cahaya Allah berupa ilmu syar’i yang bersumber dari Al Qur’an dan hadits serta bersemangat untuk memperbaiki niat ketika beramal. Andaikan ketakwaan tersebut sudah dicapai oleh seorang hamba, maka Allah akan mencintainya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,
ۚإِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَّقِينَ
“Sungguh, Allah mencintai orang-orang yang bertakwa.” (QS. At Taubah: 4)
Sikap takwa itu dikerjakan di mana pun seseorang berada. Tidak hanya dilakukan di tempat-tempat yang di sana orang-orang melihatnya, tetapi juga di tempat-tempat yang tidak terlihat oleh seorang pun,  karena Allah senantiasa melihat hamba-hambaNya di mana pun mereka berada. Karena itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Bertakwalah kepada Allah di mana pun engkau berada dan iringilah amalan jelek dengan amalan baik, sehingga itu akan menghapuskannya.” (HR. At Tirmidzi, dihasankan Al Albani dalam Al Misykat No. 5083)
Dalam hadits riwayat Muslim di atas, kaya yang dimaksud adalah kaya hati bukan kaya dari sisi harta benda. Hal ini dijelaskan  oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,
“Bukanlah kaya itu dengan banyaknya harta benda, tetapi kaya itu adalah kaya hati.” (HR. Bukhari No. 6446)
Kaya hati adalah sikap merasa cukup yang dimiliki seseorang dengan apa yang Allah berikan dari rezeki dan tidak bersikap tamak, sehingga ia bersikap zuhud (sedikitnya keinginan) terhadap dunia. Hal ini pun dikuatkan oleh sabda Rasulullah shallallhu ‘alaihi wa sallam  yang lain, beliau bersabda,
“Zuhudlah terhadap dunia, maka Allah akan mencintaimu. Dan zuhudlah terhadap apa yang ada pada manusia, maka manusia akan mencintaimu.” (HR. Ibnu Majah No. 4102)
Tersembunyi maksudnya adalah menyembunyikan amalannya. Seorang hamba melakukan amalan-amalan saleh, mengerjakan berbagai kebaikan tanpa ditampakkan kepada manusia. Dia tidak suka terhadap pujian dan sanjungan manusia. Dia tidak suka dilihat manusia ketika beramal. Yang dia inginkan hanya balasan dari Allah. Hal ini lebih memudahkan seseorang untuk ikhlas dalam beramal dibanding ketika beramal dalam keadaan terlihat oleh manusia.
Kedua, meraih kecintaan Allah dengan menunaikan amalan-amalan sunnah setelah mengerjakan amalan-amalan yang wajib.
Pada hadits ke-38 di kitab Al Arba’un An Nawawiyah disebutkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Sesungguhnya Allah berfirman, ‘Siapa saja yang memusuhi waliKu maka Aku umumkan perang terhadapnya. Dan tidaklah hambaKu mendekatkan diri kepadaKu dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada amalan-amalan yang wajib. Dan terus menerus hambaKu mendekatkan diri kepadaKu dengan amalan-amalan sunnah sampai Aku mencintainya’.” (HR. Bukhari No. 6502)
Ketiga, meraih kecintaan Allah dengan saling mencintai sesama muslim karenaNya, saling mengunjungi karenaNya, dan saling menderma karenaNya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Allah berfirman, ‘Wajib kecintaanku turun bagi orang-orang yang saling mencintai karenaKu, bagi mereka yang duduk-duduk karenaKu, bagi mereka yang saling mengunjungi karenaKu, dan bagi mereka yang saling menderma karenaKu’.” (HR. Malik, Ahmad, Al Baihaqi, disahihkan Al Albani dalam At Targhib wat Tarhib)
Keempat amalan tersebut dilakukan dengan didasari maksud karena Allah subhanahu wa ta’ala bukan karena keuntungan pribadi, atau tujuan-tujuan duniawi lainnya.
Dalam Shahih Muslim disebutkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa ada seseorang yang akan mengunjungi temannya di daerah lain. Kemudian Allah mengutus seorang malaikat dengan wujud lain yang menghampirinya dalam perjalanan.
Malaikat tersebut berkata, “Ke mana kau hendak pergi?”
Dia menjawab, “Aku hendak menemui temanku di daerah ini.”
Malaikat berkata, “Apakah engkau hendak mengambil suatu manfaat darinya?”
Dia berkata, “Tidak, aku mengunjunginya karena aku mencintainya karena Allah.”
Malaikat berkata, “Aku adalah utusan Allah (malaikat). Sesungguhnya Allah mencintaimu sebagaimana engkau mencintai temanmu tersebut karenaNya.” (HR. Muslim No. 4656, 6714)
Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hambaNya yang pantas untuk dicintaiNya. Allahumma Amin.

Sumber: http://dakwahislam.net/meraih-kecintaan-allah/

Minggu, 01 November 2015

Hukum Makan Babi Menurut 3 Agama




Memakan daging babi haram hukumnya dalam ajaran agama Islam, apakah agama lain juga melarangnya? berikut penjelasan berbagai aspek larangan ini:

1. Babi dilarang dalam Al quran.
Ia adalah dilarang dalam surat 2:173, 5:3, 6:145 dan 16:115.
“Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, “ [Al-Qur'an 5:3]
ayat-ayat Al Qur’an di atas cukup untuk memenuhi bagi Muslim mengapa babi diharamkan.

2. Daging babi ternyata juga dilarang dalam Injil. Umat Kristiani lebih percaya dengan Kitab Suci agamanya. Injil melarang mengkonsumsi babi, dalam kitab Imamat “Dan babi, meskipun ia memiliki kuku terbelah, namun dia tidak memamahbiak; babi adalah najis untuk Anda”.
“daging nya jangan kamu makan, dan bangkai mereka jangan engkau sentuh, mereka adalah najis untuk Anda.” [Imamat 11:7-8]
Babi juga dilarang dalam Injil dalam kitab Ulangan
“Dan babi, karena kukunya terbelah, namun bukan pemamah biak, ia adalah najis untuk Anda. Kamu jangan makan daging mereka, dan jangan menyentuh bangkai mereka.” [Ulangan 14:8]
larangan yang sama juga diulang dalam Injil dalam kitab Yesaya bab 65 ayat 2-5.

3. Konsumsi daging babi menyebabkan beberapa penyakit.
Memakan babi dapat menyebabkan tidak kurang dari tujuh puluh jenis penyakit. Seseorang dapat menderita berbagai helminthes (cacingan) seperti cacing gelang, cacing keremi, cacing tambang, dll Salah satu yang paling berbahaya adalah Taenia Solium, yang dalam terminologi manusia disebut cacing pita. Ia hidup di usus dan sangat panjang. berkembang melalui telur, masuk ke aliran darah dan dapat mencapai hampir semua organ tubuh. Jika ia memasuki otak dapat menyebabkan hilangnya memori. Jika memasuki jantung dapat menyebabkan serangan jantung, jika memasuki mata dapat menyebabkan kebutaan, jika memasuki hati itu dapat menyebabkan kerusakan hati.

Cacing ini dapat merusak hampir semua organ tubuh. Jenis Helminthes lain adalah Trichura Tichurasis. Kesalahpahaman umum tentang babi adalah bahwa banyak orang mengira bahwa jika dimasak dengan baik, telur cacing yang terkandung dalam daging babi akan mati. Dalam sebuah riset penelitian yang dilakukan di Amerika, telah ditemukan bahwa dari dua puluh empat orang menderita Trichura Tichurasis, dua puluh dua telah memasak/mengolah daging babi dengan sangat baik. Hal ini menunjukkan bahwa telur cacing dalam daging babi tidak mati dimasak dengan suhu normal.

4. Lemak babi mengandung bahan untuk bangunan. Daging Babi mempunyai sedikit otot (lemak) yang mengandung bahan untuk bangunan dan kelebihan lemak. Lemak ini mengendap di tubuh dan dapat menyebabkan hipertensi dan serangan jantung. Tidak mengherankan bahwa lebih dari 50% dari Amerika menderita hipertensi.

5. Babi merupakan salah satu binatang terjorok di bumi
Ia hidup dan berkembang di kotoran binatang, kotoran manusia dan kotoran lainnya. Di masyarakat desa yang tidak memiliki toilet modern dan mereka membuang kotoran di udara terbuka, kotoran mereka akan habis dimakan oleh babi.

Di negara-negara maju seperti Australia, babi dipelihara dengan sangat bersih dan higienis. Betapa pun keras Anda mencoba untuk menjaga mereka untuk tetap bersih, mereka jorok secara alami. Mereka memakan dan menikmati kotoran kawannya sendiri. 


1.ISLAM
  Qs 2 Al Baqarah 173
173. Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah. Tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Qs An ‘aam 145
145. Katakanlah: “Tiadalah aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, kecuali kalau makanan itu bangkai, atau darah yang mengalir atau daging babi – karena sesungguhnya semua itu kotor – atau binatang yang disembelih atas nama selain Allah. Barangsiapa yang dalam keadaan terpaksa, sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka sesungguhnya Tuhanmu Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
"Telah diharamkan atas kamu bangkai, darah, daging babi, binatang yang disembelih bukan karena Allah, yang (mati) karena dicekik, yang (mati) karena dipukul, yang (mati) karena jatuh dari atas, yang (mati) karena ditanduk, yang (mati) karena dimakan oleh binatang buas kecuali yang dapat kamu sembelih dan yang disembelih untuk berhala." (al-Maidah: 3)

2.KRISTEN
Alkitab cetakan baru tahun 1996-2005
Imamat 11:7-8 Demikian juga babi hutan, karena memang berkuku belah, yaitu kukunya bersela panjang, tetapi tidak memamah biak; haram itu bagimu. Daging binatang-binatang itu janganlah kamu makan dan bangkainya janganlah kamu sentuh; haram semuanya itu bagimu.
Ulangan 14:8 juga babi hutan, karena memang berkuku belah, tetapi tidak memamah biak; haram itu bagimu. Daging binatang-binatang itu janganlah kamu makan dan janganlah kamu terkena bangkainya.
Alkitab cetakan lama 1991
Imamat11:7-8 Demikian juga  babi, karena memang berkuku belah, yaitu kukunya bersela panjang, tetapi tidak memamah biak, haram itu bagimu.
Alkitab cetakan lama tahun 1941
Imamat 11:7-8 Dan lagi babi, karena soenggoehpon koekoenja terbelah doewa, ija itoe bersiratan koekoenja, tetapi tiada ija memamah bijak, maka haramlah ija kapadamoe. Djangan  kamoe makan daripada dagingnja dan djangan poela kamoe mendjamah bangkainja, maka haramlah ija kapadamoe.

3.HINDU
“ Daging tidak akan pernah diperoleh tanpa menyakiti mahluk hidup, dan menyakiti setiap mahluk hidup akan berakibat dalam mencapai kebahagian surgawi; oleh karena itu hindarilah penggunaan daging. Pertimbangkan dengan baik asal daging yang menjijikkan, kejam, membelenggu dan membunuh mahluk hidup. Biarkan mereka berpantang memakan daging secara total.” (Manu-samhita 5.48-49)
“Mereka yang mengijinkan pembantaian binatang, mereka yang memotong, membunuh, membeli atau menjual daging, yang memasak, yang menyajikannya dan yang memakannya, harus diperlakukan sebagai pembunuh binatang tersebut. Tidak ada dosa yang lebih besar dari manusia yang memelihara badannya dengan  daging dari mahluk hidup lain meskipun dia memuja para dewa dan para leluhur (manu-samhitta 5.51-52)
“Seseorang yang memakan daging manusia, daging kuda atau binatang yang lain, selain susu dengan pembantaian Sapi, O raja, jika tindakan jahat seperti itu tidak berhenti, sebaiknya anda harus segera memotong kepalanya.” (Rig-veda 10.87.16)
“Kamu sama sekali tidak boleh mempersembahkan sesuatu kepada Tuhan dengan membunuh ciptaan-Nya, baik itu manusia, binatang atau apapun.”(Yajur Veda 12.32.90)
“ Tidak membunuh (Ahimsa) adalah  kewajiban tertinggi.” (Padma Purana 1.31.27)