Minggu, 25 Oktober 2015

Siapakah "MANUSIA" Yang Sebenarnya ?


Manusia, makhluk yang berakal budi (mampu menguasai makhluk lain). Dapat diartikan berbeda-beda dari segi biologis, rohani, dan istilah kebudayaan, atau secara campuran. Secara biologis, manusia diklasifikasikan sebagai Homo sapiens (Bahasa Latin yang berarti "manusia yang tahu"), sebuah spesies primata dari golongan mamalia yang dilengkapi otak berkemampuan tinggi. Dalam hal kerohanian, mereka dijelaskan menggunakan konsep jiwa yang bervariasi di mana, dalam agama, dimengerti dalam hubungannya dengan kekuatan ketuhanan atau makhluk hidup; dalam mitos, mereka juga seringkali dibandingkan dengan ras lain. Dalam antropologi kebudayaan, mereka dijelaskan berdasarkan penggunaan bahasanya, organisasi mereka dalam masyarakat majemuk serta perkembangan teknologinya, dan terutama berdasarkan kemampuannya untuk membentuk kelompok, dan lembaga untuk dukungan satu sama lain serta pertolongan.
Penggolongan manusia yang paling utama adalah berdasarkan jenis kelaminnya. Secara alamiah, jenis kelamin seorang anak yang baru lahir entah laki-laki atau perempuan. Anak muda laki-laki dikenal sebagai putra dan laki-laki dewasa sebagai pria. Anak muda perempuan dikenal sebagai putri dan perempuan dewasa sebagai wanita.

DALAM PANDANGAN AGAMA ISLAM
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an yang artinya: “Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi, gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia, Sesunggunya manusia itu amat zalim dan bodoh” (QS. Al-Ahdzab ; 72)

Amanat yang diberikan kepada manusia itu adalah akal dan amanat untuk mengemban kewajiban dari Allah SWT. Jadi manusia adalah satu-satunya makhluk hidup yang dibebani kewajiban untuk mentaati dan mematuhi Allah dan RasulNya. Untuk itu Allah SWT memberikan kekuatan akal guna untuk membedakan mana yang salah dan mana yang benar, mana yang baik dan mana yang buruk.

Jadi manusia adalah makhluk hidup yang berakal, manusia diberikan oleh Allah SWT kemampuan untuk dapat belajar dan mengembangkan segala macam ilmu pengetahuan, karena itulah ilmu manusia akan terus bertambah dari masa ke masa. Seiring berkambangna ilmu pengetahuan yang dikembangkan oleh manusia, maka semakin pintar pula manusam semua pertanyaan yang ada dalam kehidupan ini dapat mereka jawab, namun ada satu pertanyaan yang tidak dapat dijawab oleh manusia itu sendiri, dan anehnya pertanyaan itu adalah sesuatu yang paling dekat dengan manusia itu sendiri, yaitu tentang dirinya sendiri.

Sejak puluhan abad silam, para ilmuan telah berusaha menjawab pertanyaan ini, hingga muncullah Dr. Alexis Carerel (1973-1944), seorang ahli bedah Perancis yang melakukan studi mendalam tentang hakikat manusia, akan tetapi dia tidak mampu memahaminya persis seperti para ilmuan lainnya yang juga tidak mampu memahaminya. Pada akhirnya dia menulis sebuah buku, jika diterjemahkan berjudul “Manusia, makhluk tak dikenal”. Dalam buku itu dia menguraikan :

“manusia tidak mengenali dirinya sendiri dan tifak kunjung mengenalnya hingga beberapa abad. Sampai detik inipun kita tidak mengetahui hakikat kita sebagai manusia, kecuali pengetahuan seperti yang sudah diketahui oleh seorang primitive”.

“kita telah mampu merakit aneka benda dan kita sudah mengetahui segala sesuatu yang ada dimuka bumi ini, kecuali diri kita sendiri. Setiap diri manusia mengandung hal-hal yang misterius”.

Allah SWT memberitahu para hambanya dalam firmanNya yang artinya : “Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya” (QS. Qaaf : 16)

Adakah seseorang diantara kita yang membantah firman Allah SWT yang berbunyi “Dan sesunggunya telah Kami ciptakan manusia”, lalu berkata kepadanya, tidak! Sayalah yang menciptakan manusia.

Tidak akan pernah ada seorang pun diantara kita yang membantah firmah Allah SWT tentang ini, Nah, jika suatu masalah tidak terbantahkan, maka selesailah permasalahan tersebut. Selama Allah SWT yang menciptakan manusia maka kita pasti akan menemukan rahasia-rahasia penciptaan manusia dalam kitab-Nya, yakni Al-Qur’an, dan juga wahyu yang disampaika kepada Rasul-Nya, yaitu Hadits Nabi SAW.

Kita semua pasti bisa mengetahui siapa manusai itu sebenrnya jika kita merenungkan ayat-ayat Al-Qur’an, kitab Allah sang pencipta manusia, maka definisi manusia adalah :” manusia sebagai makhluk hidup yang berakal; tidak berwujud fisik; bersifat kekal -tidak bisa mati- karena roh kekal; dan tidak terbatas oleh waktu”.

Manusia bukanlah fisiknya, fisik itu adalah raga manusia. Lantas manakah yang disebut manusia ??

Manusia sejati adalah jati diri manusia yang senantiasa sadar, berakal, hidup, kekal, serta bersifat nonfisik. Ketika jati diri yang tidak berwujud fisik ini dikehendaki oleh Allah SWT hidup di dunia ini, maka Allah SWT pun memberinya kenderaan yang berupa fisik, yang pas dengan kondisi medan dan kondisi lingkungan hidup di dunia ini.

Dan apabila fisik yang berwujud materi itu mati, raga pun kembali menjadi tanah, asal penciptanya. Sebab ia adalah tanah yang akan kembali ke tanah.

Manusia hanya bisa mengetahui hakikat penciptaan dirinya apabila dia mengenali jati dirinya yang terdiri atas jiwa, akal, dan roh, itulah ketiga potensi nonfisik yang membentuk manusia sejati, yang kemudian disusun dan bersemayam dalam materi berwujud fisik, yaitu raga manusia yang hidup di dunia ini.

Karena itulah raga manusia berbeda beda antara satu dengan yang lainnya, baik warna kulitnya maupun bentuk tubuhnya, sesuai dengan kehendak dan kebijaksanaan Allah SWT.


DALAM PANDANGAN AGAMA KATHOLIK

Meskipun Alkitab sudah menjelaskan siapa Manusia tetapi masih banyak perdebatan-perdebatan
yang belum tuntas sampai hari ini. Manusia adalah ciptaan Allah yang diciptakan segambar dan serupa dengan Allah. Yang menjadi perdebatan teolog adalah elemen dari manusia. Sehigga lahirlah dikotomi dan trikotomi. Biasanya pertanyaan manakan yang paling benar? Sebelum saya jawab, saya akan menjelaskan teori Dikotomi dan Trikotomi:
A. Dikotomi mengakui hanya ada batiniah dan lahiriah, karena roh dan jiwa adalah batiniah. Fakta-fakta yang mereka buat

  1. Allah menghembuskan dalam manusia satu prinsip saja, yaitu jiwa yang hidup. Dalam Kitab Ayub 27:3 "Hidup", (dalam terjemahan baru disebut "nafas"),  dan "roh" nampaknya dipertukarkan (lihat Ayub 33:18).
  2. Istilah "jiwa" (hati) dan "roh" nampaknya dapat dipertukarkan dalam beberapa ayat: (Kejadian 41:8 danm Mazmur 42:6; Matius 20:28 dan 27:20; Yohanes 12:27 dan 13:21). 

Penekannya adalah jiwa dan roh adalah satu karena hanya satu yang dihembuskan Allah untuk membuat manusia itu hidup. Ibu sebabnya menurut dikotomi manusia hanya terdiri dari Batiniah dan Lahiriah.

B. Trikotomi  mengakui ada Roh, Jiwa dan Tubuh adalah satu. Berikut adalah faktanya:

  1. Kejadian 2:7 ridak menyatakan secara tegas bahwa Allah menciptakan suatu wujud ganda. Naskah Ibrani mengunakan kata jamak. (Hidup-hidup), tetapi perlu diperhatikan bahwa tidak dikatakan menjadi roh dan jiwa, tetapi 'menjadi makluk hidup".
  2. Paulus memilik paham ini, ia memisahkan tubuh, jiwa, roh (1 Tesalonika 5:23) dan ini tersirat dalam Ibrani 4:12: "mimisahkan roh dan jiwa"


Jadi orang trikotomi membedakan Roh dan Jiwa. Jadi manusia terdiri dari tiga elemen tubuh, jiwa, roh. 

Kedua teori ini sumbernya Alkitab dan mengunakan ayat Alkitab, Jika demikian yang manakah yang benar? Saya menjawab dua-duanya adalah benar. Alasannya adalah orang Yahudi mengakui trikotomi, sedangkan orang Yunani mengakui Trikotomi. Kalau anda perhatikan ayat-ayat yang dikutip oleh dikotimi, jarang dari Tulisan Paulus, Paulus pelayanan bukan kepada orang yahudi tetapi bangsa-bansa non-Yahudi. Orang-orang yang dilayani oleh Rasul Paulus mayoritas dipengaruhi kebudayaan Yunani. Itu sebabnya Rasul Paulus berbicara Trikotomi.

Teknologi Menjadikan Manusia Tidak Manusiawi

Teknologi sekarang ini sudah sangat lekat dengan kehidupan manusia, mulai dari hal-hal kecil hingga hal penting yang terkait dengan pekerjaan. Namun penelitian yang dilakukan oleh Intel baru-baru ini mengatakan, teknologi membuat manusia menjadi kurang manusiawi.

Perusahaan prosesor komputer Intel melakukan survei dengan judul Intel Innovation Barometer ini yang dilakukan di Brasil, China, Prancis, India, Indonesia, Italia, Jepang, dan Amerika Serikat sejak Juli hingga Agustus 2013.

Berdasarkan survei tersebut, didapat hasil bahwa enam dari sepuluh orang yang menggunakan teknologi, yang disebut generasi milenia, mengaku teknologi kian membuatnya kurang manusiawi.

Hal ini dikarenakan manusia selalu bersinggungan dengan teknologi di setiap aktivitas yang dilakukannya. Mulai dari bangun tidur, beraktivitas, bahkan saat tertidur pun smartphone berada di sisi penggunanya.

Responden menilai teknologi membuat manusia tergantung dengan kecanggihannya, dan tak melakukan kegiatan sosial.
Di Indonesia, sebanyak 53 persen responden mengiyakan bahwa teknologi membuat manusia jadi kurang manusiawi. Berdasarkan survei tersebut, teknologi juga dikatakan membuat privasi seseorang menjadi kurang berarti lagi. 
Sebanyak 80 persen orang Indonesia bersedia berbagi tanggal lahir mereka di jejaring sosial, 62 persen membagi rekam jejak GPS mereka di media sosial menggunakan aplikasi semacam Foursquare dan lainnya.
Bahkan, 59 persen orang Indonesia rela berbagi transaksi yang telah dilakukannya di dunia maya. Namun sikap ini cenderung lebih mudah didapati pada masyarakat Indonesia ketimbang Amerika.

Orang-orang di sana lebih hati-hati dalam menulis informasi pribadi di dunia internet.
Meski demikian, masyarakat di Indonesia juga percaya bahwa teknologi juga bisa meningkatkan hubungan pribadi mereka. Sebanyak 83 persen responden setuju dengan pernyataan tersebut. Selain itu sebanyak 67 persen menyetujui bahwa teknologi berdampak positif bagi pendidikan, transportasi, dan kesehatan.